Selasa, 01 Oktober 2013

Sebuah Cerita Untuk Awal Yang Baru


Ketika itu, empat tahun yang lalu aku menapakan jejakku di kota ini, Yogyakarta
Beranjak dari remaja yang dungu dari kota kecil jawa tengah
Membawa segenap cita-cita orang tua yang mereka titipkan padaku
Dengan ragu-ragu, september empat tahun yang lampau
Aku mulai perjalanan merajut mimpi-mimpi itu

Empat tahun bukanlah waktu yang lama atau singkat untuk menuliskan tinta-tinta perjalanan
Sungguh banyak cerita yang aku dapatkan selama ini
Mungkin untuk menjadikannya sebuah buku cukup menghabiskan beribu-ribu halaman
Tapi itulah memang kenyataannya, mulai dari cerita senang, sedih, pilu, sampai cinta

Banyak sekali yang ingin aku ceritakan
Entah harus memulainya dari mana dulu, bingung harus membuka memori selama empat tahun itu
Tapi dari semua itu, aku hanya berfikir kalau jalan hidupku mungkin tak seindah seperti tokoh dalam suatu buku, aku hanyalah seorang remaja yang ingin beranjak dari cengkraman remaja dan berlanjut sebagai sosok seseorang yang bisa dianggap menjadi dewasa.

Teman, sahabat, sampai seorang spesial, semua menjadi bagian tak tergantikan dari perjalananku
Mungkin bisa dikatakan merekalah tokoh yang memerankan jalan cerita ini
Dan aku mungkin hanya diartikan sebagai aliran arus air yang kecil, yang hanya mengalir dan mengalir
Ya begitulah adanya, ya ini diriku

Sampai saat ini cerita itu masih berlanjut, tapi untuk perjalanan mimpi orang tuaku, sudah aku selesaikan
Ya, sekarang aku sudah lulus dari sebuah perguruan tinggi
Ya sekarang aku adalah seorang sarjana, sarjana pendidikan
Inilah cita-cita bapak dan ibu, ingin melihat anaknya menjadi seorang sarjana

Aku bahagia bisa menyelesaikan mimpi orang tua, tepat empat tahun
Dan mulai hari ini, aku punya cerita sendiri, mimpiku sendiri, jalanku sendiri
Bapak, ibu, terima kasih atas semuanya




Sabtu, 28 Juli 2012

Pedih Ini



Mungkin memang ku tak seperti yang dulu
Yang dulu tiap malam selalu merindukan hangatnya waktu itu
Dan sekarang kau pun merasakan perbedaan itu
Ku tak lagi ada untukmu

Sekarang waktu berputar dengan cepatnya
Seperti roda yang berputar tak kenal lelah
Selalu berjalan lurus ke depan
Terus, sampai umur kita pun menua

Puisi ini ku buat
Jujur seperti tinta demi tinta ini ku tuliskan
Aku hanya ingin bercerita
Maafkan aku
Jika aku tlah berubah
Terimalah aku apa adanya

Inilah perasaan yang aku rasakan
Jujur, aku pun sedih dengan keadaan ini

Kamis, 26 Juli 2012

Sang



Hari demi hari terus menampakan jejaknya pada sang waktu
Rembulan pun mulai malu menampakan wajah putihnya
Karena sang bintang tak mampu menggelayuti hati sang rembulan lagi
Dan mereka saling melempar sajak-sajak yang kosong
Di malam sepi ini yang tlah bertahtakan gelap

Tak butuh pena untuk melukis kengerian malam ini
Tak butuh kuas kecil untuk menuliskan alam yang tersirat
Malam pun kian menampakan gelapnya bulan
Malam pun kian membisukan terangnya bintang

Sajak-sajak ini semakin menggila
Menggila akan kemunafikan sang waktu
Yang tertinggal hanyalah buih-buih semata
Tak ada lagi putih dalam hamburan gelapnya malam
Dan demi masa, dimana dia yang tak pernah kembali
Menggembalikan mimpi-mimpi gilaku akan cinta dalam putaran sang waktu
Akhirnya, tangan ini pun berhenti untuk menafsirkan alam yang indah





Minggu, 22 Juli 2012

Prolog #1

Hembusan angin mulai bertiup lirih
Menemaniku memulai menulis lagi
Sudah terlalu lama tangan ini tak bersua dengan alam
Mencoba lagi untuk menafsirkan keindahan alam ini
Sungguh bingung tuk memulainya lagi

Ketika tiada kata yang mampu terucap
Pikiran pun kosong tak berisi
Yang hanyalah gelap tanpa arah
Langkahku mulai goyah tanpa cahaya itu lagi
Apa yang harus ku gapai lagi, Tuhan?

Tunjukanlah KeagunganMu, Yang Maha Agung
Penguasa hati semua manusia
Maafkan hambaMu yang hina ini
Tobatku hanyalah untukMu, Ya Rabb
Ampuni Hamba
Ampun

Sabtu, 11 Desember 2010

Selamat Datang Cinta


Tak tahu kapan datangnya cinta
Ku tak bisa menolaknya saat ia datang menghampiri
Lantunan lagu kasih sayang mengiringi, dan tak ingin beranjak pergi darinya
Sebuah ungkapan mesra serta tutur kata yang puitis
Hanya ku berikan untuk dia saja

Pandangan tak lepas kemanapun ia melangkah
Seperti angin yang membuainya dalam kesejukan
Cinta yang menggelayuti hatiku, sungguh begitu menggoda mimpiku
Kaulah cahaya ketika gelap menyelimuti
Kaulah hati yang kan ku kasihi

Sejuta kuntum bunga tak mampu seharum semerbak wangi kasihmu
Keindahan sinar matamu melamunkan khayalku
Bintang dan bulan coba mengutarakan semuanya
Rasa yang terlalu indah tuk aku simpan dalam lubuk jiwaku
Ku ingin selami separuh hidupku bersamamu
Hanya kita berdua di dunia yang indah ini

Dalam keadaan apa pun ku ingin mencintaimu
Tak ada terbesit pun untuk berhenti menyayangimu
Karena Allah Swt menganugerahkan cinta diantara kita
Dan tak ada yang dapat memisahkannya

Rabu, 13 Oktober 2010

Arah

Awal baru untuk melangkah
Diantara kegelisahan tak berujung
Potret masa depan pun masih samar-samar
Keagungan dan keindahan ada didalamnya
Bagai sebuah mimpi yang semu

Terasa jatuh
Tersungkur dan coba mengingat semuanya
Dinginnya genggaman tanganku
Tak bisa memegang erat angan-angan ini
Begitu juga dunia yang tersirat dalam khayalku

Pikiran ini seakan mengejarku
Berpikir terus ketika ku merasa lelah
Dan terasa hidup ini seperti akan berakhir
Mati tak mati, hidup pun tidak
Sungguh ini pergolakan hati yang bimbang
Bimbang untuk menentukan arah

Senin, 30 Agustus 2010

Kegelisahan

Kericuhan kembali merasuk dalam benakku
Ketika semuanya tampak hilang tak berbekas
Kau masih seperti wanita yang kukenal dulu

Harum semerbak wangi tubuhmu melamunkan anganku
Meluluhkan kerasnya hatiku yang tlah membeku
Sungguh kau masih ada untukku
Kilauan sinar terang wajahmu itu membenamkan egoku
Sayang kau tak tahu kegelisahan ini